Mungkinkah Perokok Berat Dapat Stop Merokok Check Jalan keluarnya

Mungkinkah Perokok Berat Dapat Stop Merokok Check Jalan keluarnya

Mungkinkah perokok berat yang ketagihan nikotin dapat stop merokok? Menurut Ketua Konsolidasi Bebas TAR (Berita) dan Periset Yayasan Pengamat Kesehatan Khalayak (YPKP) Indonesia, dokter gigi Amaliya memungkinkan dilaksanakan.

Tetapi seringkali niat stop merokok itu terbentur syarat-syarat dari diri perokok. Kemungkinan tidak dapat atau mungkin tidak ingin stop merokok langsung. Kemungkinan ingin stop merokok tak perlu kurangi nikotin. Kemungkinan belum siap stop merokok, tetapi ingin kurangi jumlah rokoknya.

“Memerlukan sistem yang pas dengan bertahap. Karena mengganti sikap tidak dapat secepat-cepatnya,” kata Amaliya dalam Dialog Khalayak Produk Tembakau Alternative dalam Sudut pandang Kesehatan dan Hukum di UC Kampus Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Rabu, 31 Oktober 2018.

Susi Pudjiastuti Sebutkan Dapat Suka ke Banyuwangi karena Durian

Sistem yang dipandang pas ialah lewat pengurangan resiko tembakau atau Tobacco Harm Reduction (THR). Maksudnya untuk meminimalisir imbas jelek pemakaian produk tembakau pada kesehatan. Konsentrasi perlakuan THR ialah kurangi atau hilangkan pemakaian tembakau yang dibakar dan menukarnya lewat produk nikotin yang lain. Ingat tar hasil pembakaran tembakau rokok lebih beresiko dibanding nikotin.

Beberapa alat Vaping atau rokok elektrik yang dijajakan untuk beberapa pengunjung yang berkunjung di cafe Henley Vaporium di SoHo, New York, (20/2). Pada Vaping ada cairan nikotin rendah yang dipakai untuk produksi wewangian dan uap seperti rokok sebetulnya. (AP Foto/Frank Franklin II)

“Jadi usaha THR ialah berpindah ke produk tembakau alternative yang rendah resiko,” kata Amaliya.

Produk tembakau alternative itu mencakup Nicotine Replacement Theraphy (NRT), seperti nicotine patch atau nikotin yang ditempelkan di kulit seperti koyok, nicotin gum atau permen karet, inhaler berbentuk nikoten yang dihirup melalui hidung, nasal spray berbentuk nikotin yang disemprot dalam mulut, Lozenge. Selanjutnya produk tembakau tanpa asap (snus) dan produk tembakau organic yang tidak dibakar, tapi dipanaskan (heat not burn). Dan produk Elektroniks Nicotine Delivery Systems (ENDS), seperti rokok elektrik.

Sementara Instansi riset di bawah Kementerian Federasi Pangan dan Pertanian Pemerintahan Federasi Jerman, German Federasi Institute for Risk Assessment (BfR) lakukan riset mandiri yang didanai secara berdikari pada 2003. Riset itu berkenaan kekuatan menyusutnya resiko kesehatan dari produk tembakau yang dipanaskan dibanding yang dibakar. Hasilnya, tingkat toksisitas atau tingkat sel yang menghancurkan pada produk tembakau yang dipanaskan lebih rendah daripada tembakau yang dibakar. Tingkat toksisitas tembakau yang dipanaskan cuma 1-10 %, dan tembakau yang dibakar atau rokok konservatif capai 80-99 %.

“Jalan keluar melalui produk tembakau alternative ini telah diaplikasikan di Inggris sebagai negara maju. Dan jumlah perokoknya turun,” kata Amaliya.

Berdasar data tubuh kesehatan di bawah lindungan Kementerian Kesehatan Inggris, Public Health England melaunching pengurangan paling tinggi jumlah perokok pada 2017 sekitar 20 ribu orang dari awal sebelumnya 15,5 % dari keseluruhan komunitas pada 2016. Kebalikannya dengan Indonesia sebagai negara berkembang yang sama memiliki masalah mengenai jumlah perokok yang besar. Berdasar data Atlas Pengaturan Tembakau di ASEAN, jumlah perokok di Indonesia capai 35 % atau 75 juta jiwa dari keseluruhan komunitas. Angka itu membawa Indonesia menempati rangking ke-3  perokok paling banyak sesudah Cina dan India. Sementara hasil Penelitian Kesehatan dasar Kementerian Kesehatan pada 2013, DI Yogyakarta masuk 15 besar perokok paling banyak, yakni 31,6 % dari keseluruhan komunitas. Status paling atas masih ditempati DKI Jakarta.

“Perokok di negara berkembang semakin banyak dibanding negara maju,” kata Dewan Penasehat Ikatan Pakar Kesehatan Warga (IAKMI) Jawa Barat, dokter Ardini Raksananagara.

Meskipun begitu, Ardini masih tetap mengingati, jika sistem pengurangan resiko tembakau cuma opsi perubahan konsumsi rokok konservatif ke tembakau alternative rendah resiko. Sistem itu pantas diakui karena kekuatan faedahnya untuk perokok yang kesusahan stop merokok. “Tetapi stop merokok masih tetap jalan terbaik,” kata Ardini.